Tiga pertanyaan yang lebih baik daripada "apakah kamu mengerti?"
Pertanyaan tertutup selalu menghasilkan jawaban tertutup. Saya mengganti tiga pertanyaan biasa dengan tiga pertanyaan yang lebih tidak nyaman — dan kelas saya berubah dalam dua minggu.
Saya menulis satu esai setiap minggu — biasanya panjang, kadang tidak rapi — tentang apa yang saya pelajari dari kelas, dari buku yang saya baca ulang, dan dari percakapan dengan murid yang lebih pintar dari saya.
Setiap Jumat malam saya duduk di meja yang sama, dengan cangkir yang sama, dan menulis apa yang masih saya tidak mengerti dari minggu itu. Kadang soal murid yang menangis di kelas. Kadang soal paragraf dari buku Pramoedya yang baru saya baca untuk ketujuh kalinya dan baru kali ini paham.
Saya tidak menulis untuk memberi tahu. Saya menulis untuk memperlambat pikiran saya sendiri — supaya tidak terburu-buru menyimpulkan, supaya tidak mudah marah pada sistem, supaya masih bisa memperhatikan murid-murid saya sebagai manusia, bukan sebagai dataset.
Beberapa tulisan di sini panjang dan serius. Beberapa hanya catatan kecil tentang satu kalimat yang saya dengar di koridor. Saya tidak membedakan keduanya — keduanya sama-sama cara saya mencoba tetap hidup sebagai pengajar.
Mengajar adalah bentuk paling jujur dari membaca — kamu dipaksa menjelaskan apa yang sebenarnya belum kamu pahami, dan kamu tidak bisa berbohong di depan 32 pasang mata. — dari catatan pribadi, Maret 2021
Jika Anda baru pertama kali datang ke sini, mulailah dari tulisan tentang ruang kelas yang sepi atau tentang seni bertanya. Keduanya paling jujur. Sisanya, silakan dipilih sesuai mood Anda hari ini.
Surat masuk juga diterima — terutama yang panjang, terutama yang tidak setuju dengan saya. Saya baca semua, walau tidak selalu sempat membalas dengan cepat.
Pertanyaan itu bukan pertanyaan — itu jebakan. Tidak ada murid yang akan mengangkat tangan dan mengakui di depan 31 temannya bahwa mereka tertinggal. Saya butuh tiga tahun untuk menyadarinya, dan tiga tahun lagi untuk menemukan pertanyaan penggantinya. Inilah catatan proses itu — termasuk kegagalannya.
Pertanyaan tertutup selalu menghasilkan jawaban tertutup. Saya mengganti tiga pertanyaan biasa dengan tiga pertanyaan yang lebih tidak nyaman — dan kelas saya berubah dalam dua minggu.
Lupa bukan kegagalan. Lupa adalah cara otak memilih. Tapi kita bisa merancang bacaan supaya yang tersisa justru yang penting — bukan yang mudah diingat.
Saya melihat murid-murid saya paling kreatif saat mereka tidak melakukan apa-apa. Tapi sekolah tidak punya ruang untuk "tidak melakukan apa-apa". Inilah catatan tentang paradox tersebut.
Tiga tahun belajar kaligrafi dengan guru yang sama. Yang dia ajarkan bukan teknik — tapi cara duduk, cara menahan napas, cara menerima garis yang salah tanpa marah pada diri sendiri.
Kelas tambahan untuk anak yang sudah putus asa dengan sistem. Saya belajar lebih banyak dari mereka daripada dari buku pedagogi manapun yang pernah saya baca.
Selama lima tahun saya mengukur diri saya dengan jumlah catatan, slide, dan modul yang saya buat. Tahun ke-enam saya berhenti. Inilah apa yang berubah — dan apa yang hilang.
Saya tidak suka label seperti "pedagogi" atau "psikologi" — terlalu akademis. Saya kelompokkan tulisan berdasarkan pertanyaan yang sedang saya renungkan saat menulisnya.
beberapa buku yang saya buka lagi — dan kenapa